Jika kamu pernah berkunjung ke Cilacap, kamu mungkin bertanya-tanya, sebenarnya apakah Cilacap itu Sunda atau Jawa?
Di satu sisi, daerah ini termasuk Jawa Tengah, tetapi banyak orang di sana yang menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya. Kondisi ini membuat Cilacap menjadi wilayah yang unik, di mana dua budaya besar Sunda dan Jawa bertemu dan saling berbaur.
Letak Geografis Cilacap di Jawa Tengah
Kabupaten Cilacap adalah daerah yang terletak di bagian barat daya Provinsi Jawa Tengah, tepat di perbatasan dengan Kabupaten Pangandaran dan Ciamis (Jawa Barat). Karena letak geografisnya yang strategis, Cilacap menjadi wilayah peralihan budaya antara Jawa dan Sunda.
Fakta menarik: Cilacap merupakan kabupaten terluas di Jawa Tengah, dengan luas wilayah lebih dari 2.100 km².
Wilayah barat seperti Dayeuhluhur, Majenang, dan Wanareja lebih kental dengan budaya Sunda. Sedangkan bagian timur seperti Kesugihan, Kroya, dan Sampang lebih dominan budaya Jawa. Dari sini, kamu bisa melihat betapa beragamnya identitas masyarakat Cilacap.
Sejarah Budaya Cilacap: Sunda atau Jawa?
Untuk memahami apakah Cilacap termasuk Sunda atau Jawa, kamu harus melihat dari sisi sejarahnya. Dahulu, wilayah barat Cilacap merupakan bagian dari Kerajaan Sunda Galuh (yang berpusat di Ciamis sekarang). Karena itu, masyarakat di wilayah tersebut masih mempertahankan bahasa dan adat Sunda hingga kini.
Namun, sejak abad ke-16, Kesultanan Mataram memperluas pengaruhnya ke barat. Akibatnya, sebagian wilayah Cilacap mulai terpengaruh budaya Jawa. Maka tak heran, kini wilayah timur Cilacap lebih identik dengan bahasa Jawa, sedangkan baratnya masih kuat dengan bahasa Sunda.
Bahasa di Cilacap Perpaduan Sunda dan Jawa
Cilacap termasuk daerah yang multibahasa, di mana penduduknya bisa berbicara bahasa Sunda atau bahasa Jawa, tergantung lokasi dan lawan bicara.
- Wilayah Barat (Dayeuhluhur, Majenang, Wanareja):
Menggunakan bahasa Sunda dengan dialek khas perbatasan yang mirip Ciamis. - Wilayah Timur (Kesugihan, Kroya, Sampang):
Lebih sering menggunakan bahasa Jawa Banyumasan atau ngapak.
Menariknya, banyak warga Cilacap yang menguasai dua bahasa daerah sekaligus, sehingga komunikasi antarwilayah tetap lancar dan harmonis.
Ini menjadi bukti bahwa keberagaman bahasa tidak harus menjadi pembeda, melainkan kekayaan budaya yang patut dibanggakan.
Budaya dan Identitas Masyarakat Cilacap
Secara administratif, Cilacap jelas termasuk wilayah Jawa Tengah, tetapi dari sisi budaya, masyarakatnya merupakan hasil asimilasi antara Sunda dan Jawa.
Kamu bisa menemukan pengaruh budaya Sunda dalam:
- Musik tradisional seperti kecapi suling
- Bahasa dan logat masyarakat barat Cilacap
- Tradisi gotong royong dan nilai kekeluargaan
Sementara pengaruh budaya Jawa terlihat dalam:
- Seni wayang kulit dan gamelan
- Upacara adat seperti mitoni atau slametan
- Bahasa Jawa ngapak yang khas di timur Cilacap
Dengan campuran dua budaya ini, masyarakat Cilacap tumbuh sebagai komunitas yang terbuka, toleran, dan ramah terhadap perbedaan.
Kearifan Lokal dan Kuliner Khas Cilacap
Selain budaya, perpaduan Sunda dan Jawa juga tampak dalam kulinernya. Misalnya:
- Sambal goang dan lalapan, pengaruh dari budaya Sunda.
- Pecel, tempe mendoan, dan getuk goreng, cita rasa khas Jawa Tengah.
Keduanya hidup berdampingan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cilacap. Jadi, kamu bisa merasakan sensasi “dua dunia” hanya dengan berjalan dari barat ke timur kabupaten ini.
Jadi, Cilacap Termasuk Sunda atau Jawa?
Jawaban yang paling tepat yaitu Cilacap termasuk Jawa Tengah secara administratif, tetapi secara budaya mencerminkan perpaduan Sunda dan Jawa. Wilayah barat lebih berakar pada budaya Sunda, sedangkan bagian timur kental dengan budaya Jawa.
Inilah yang membuat Cilacap unik dan kaya akan identitas budaya, menjadi jembatan alami antara dua tradisi besar di Pulau Jawa.





